Penurunan tersebut berlangsung ketika saham RANS juga mengalami tekanan. Dari lantai bursa, saham RANS melorot 12,75% selama satu bulan terakhir ke level Rp178 per saham pada perdagangan pagi ini.
Raffi Ahmad belakangan buka suara ihwal kinerja saham perusahaannya yang kembali mendekati harga penawaran (IPO) di level Rp170 per saham.
Raffi meminta investor untuk menunggu pertumbuhan kinerja keuangan dan operasional RANS. Menurut dia, manajemen RANS akan menghadirkan sejumlah kejutan kepada investor.
"Tunggu dong, kalau itu kan ada gebrakannya," kata Raffi saat ditemui di Jakarta, Kamis (8/10/2026).
Kendati demikian, dia enggan berkomentar banyak ihwal rencana aksi korporasi mendatang dari RANS tersebut.
Dia meminta pertanyaan soal aksi korporasi RANS diajukan ke istrinya, Nagita Slavina sebagai direktur utama perseroan.
“Ada, rahasia dong tanya ke bu bos Nagita,” kata dia.
Di tengah berkurangnya jumlah pemegang saham, struktur kepemilikan pemegang saham utama RANS relatif tidak berubah.
Berdasarkan laporan periode September 2026, Raffi Ahmad masih menguasai 7,935 miliar saham atau setara 62,93% dari modal perseroan. Sementara itu, Nagita Slavina Mariana Tengker tercatat memiliki 124,75 juta saham atau 0,99%.
PT Indonesia Entertainmen Grup juga masih menggenggam 911,5 juta saham RANS atau 7,23%. Ketiga pemegang saham tersebut tidak mencatatkan perubahan jumlah saham dibandingkan dengan bulan sebelumnya.
Sementara itu, Bos Jhonlin Group Andi Syamsuddin Arsyad atau Haji Isam masih memegang 176,47 juta saham RANS atau sekitar 1,4% saham beredar perusahaan.
Selain itu, Bos BPI Danantara Dony Oskaria tetap mempertahankan posisi kepemilikan 345,25 juta saham RANS, sekitar 2,74% dari saham beredar perseroan.
Pendapatan Melemah
Tekanan terhadap saham RANS juga berlangsung di tengah tantangan kinerja operasional perseroan.
Berdasarkan laporan keuangan semester I-2026 yang dipublikasikan pada Agustus, pendapatan RANS tercatat Rp149 miliar, turun 13,17% dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp171,6 miliar.
Penurunan pendapatan terjadi pada sejumlah lini bisnis, termasuk konten media sosial serta jasa brand ambassador dan talent management.
Pendapatan dari segmen hiburan dan gaya hidup juga mengalami penurunan, demikian pula penjualan produk makanan, minuman, dan kecantikan berbasis intellectual property (IP).
Meski pendapatan tertekan, laba bersih RANS meningkat karena perseroan melakukan efisiensi beban. Kondisi ini mengindikasikan bahwa pertumbuhan laba belum sepenuhnya ditopang oleh peningkatan pendapatan.
Laba periode berjalan RANS naik menjadi Rp23,76 miliar dari Rp21,41 miliar. Laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik perusahaan juga meningkat menjadi Rp25,57 miliar dari Rp22,73 miliar.
Sebelumnya, Bloomberg Technoz juga mengulas penilaian terhadap valuasi saham RANS ketika baru melantai di bursa. Dalam kajian yang dikutip saat itu, Panin Sekuritas menilai valuasi RANS relatif premium berdasarkan kinerja historis, dengan aktivitas bisnis yang masih bergantung pada figur Raffi Ahmad dan Nagita Slavina.
Penilaian tersebut menjadi salah satu konteks yang relevan untuk memahami tantangan RANS sebagai emiten di sektor media dan hiburan.
Ke depan, kemampuan perseroan menjaga pendapatan, mengembangkan bisnis di luar ketergantungan terhadap figur utama, serta mempertahankan profitabilitas menjadi aspek yang perlu dicermati investor.
(fik/naw)





























