Harga emas dunia naik usai koreksi lebih dari 1% pada perdagangan Rabu (7/10/2026). Dalam sepekan terakhir, harga terpangkas 0,85% secara point-to-point. Selama sebulan ke belakang, harga jatuh 5,81%.
Jadi, rasanya harga emas sekarang sudah ‘murah’. Ini membuat investor kembali melirik dan melakukan aksi borong.
Selain itu, kabar dari Amerika Serikat (AS) juga suportif bagi harga emas. Bloomberg News mengabarkan, Presiden AS Donald Trump mengungkapkan bahwa sudah ada diskusi yang produktif dengan Iran.
Trump juga membantah isu bahwa AS akan menyerang Iran sebelum Pemilu Sela. “Kami tidak akan menyerang Iran sebelum Pemilu Sela AS dilaksanakan pada 3 November,” tegas Trump dalam cuitan di media sosial.
Jika situasi di Timur Tengah ‘mendingin’, maka harga minyak bisa lebih terkendali. Ini akan membuat dunia bisa menghindari ancaman inflasi tinggi, yang kemudian mendorong bank sentral untuk tidak menaikkan suku bunga acuan secara agresif.
Emas adalah aset yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset). Memegang emas menjadi kurang menguntungkan saat suku bunga tinggi.
Faktor yang juga menopang harga emas adalah aksi borong yang masih dilakukan oleh bank sentral di berbagai negara. Bank Sentral China (PBoC) menjadi pembeli emas terbanyak dengan menambah sekitar 23 ton bulan lalu. Ini menjadi pembelian bulanan terbanyak sejak 2023.
(aji)





























