Logo Bloomberg Technoz

Data terbaru yang menunjukkan rapuhnya belanja konsumen memperumit komunikasi Bank of Japan (BOJ) ketika otoritas tetap berada di jalur untuk kembali menaikkan suku bunga.

Belanja rumah tangga Jepang. (Bloomberg)

Upah riil, yang disesuaikan dengan inflasi, telah meningkat setiap bulan sepanjang tahun ini, tetapi kenaikan tersebut belum mendorong permintaan konsumen yang lebih kuat.

Semakin banyak penduduk Jepang yang memasuki usia pensiun di tengah populasi yang menua, sehingga tidak menikmati manfaat dari kenaikan upah.

Gubernur BOJ Kazuo Ueda berulang kali memperingatkan risiko inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan. Banyak pelaku pasar pun bertaruh bahwa BOJ akan kembali menaikkan suku bunga acuan sebelum akhir tahun ini.

Data yang dirilis pada Jumat menunjukkan bahwa inflasi dan permintaan domestik tidak bergerak naik secara bersamaan. Kenaikan suku bunga yang terlalu cepat atau terlalu tinggi dapat membebani perekonomian.

Penurunan tajam pengeluaran untuk pendidikan dan hiburan, makanan, pemeliharaan rumah, serta sewa dan utilitas menyeret indeks belanja secara keseluruhan.

Satu-satunya komponen indeks yang tidak mengalami penurunan adalah transportasi dan komunikasi, seiring meningkatnya pengeluaran terkait kendaraan.

Penurunan pengeluaran untuk pendidikan dan merosotnya belanja utilitas sebesar 5,2% secara tahunan mencerminkan dampak subsidi serta berbagai kebijakan lain yang diluncurkan Perdana Menteri Sanae Takaichi sebagai bagian dari upayanya menekan biaya hidup.

Perdana menteri tersebut juga berencana memangkas pajak penjualan untuk makanan menjadi 1% dari tarif saat ini sebesar 8%, mulai April, guna lebih membantu rumah tangga menghadapi inflasi. Ia berjanji mengembalikan tarif pajak tersebut ke tingkat semula setelah dua tahun.

(bbn)

No more pages