Perkembangan ini menjadi sinyal terbaru bahwa Putin bersiap menghadapi eskalasi perang dengan Ukraina. Moskow telah meningkatkan serangan menggunakan rudal dan drone yang lebih cepat serta lebih sulit dicegat, dengan sasaran fasilitas energi, transportasi, rumah sakit, dan infrastruktur sipil lainnya. Putin juga memperingatkan apa yang disebutnya sebagai retorika hawkish dari sejumlah ibu kota Eropa, ketika pemerintah di kawasan tersebut semakin khawatir terhadap niat Rusia dan risiko konfrontasi.
Tren anggaran saat ini berbalik tajam dari setahun lalu, ketika Rusia berencana memperlambat pertumbuhan belanja militer untuk mempersempit defisit anggaran dan membangun kembali cadangan yang terkuras selama perang.
Menjelang pengesahan rancangan anggaran 2026, Putin bertemu dengan Presiden AS Donald Trump di Anchorage, Alaska. Setelah pertemuan pada Agustus 2025 tersebut, pemimpin Rusia itu berharap kesepakatan damai dengan Ukraina mungkin tercapai pada tahun berikutnya sehingga kebutuhan untuk meningkatkan belanja militer secara signifikan dapat dikurangi, menurut salah satu sumber tersebut.
Namun, pada Januari, Kremlin menyimpulkan bahwa kesepakatan dengan Ukraina masih sulit dicapai dan upaya yang dipimpin AS gagal menghasilkan terobosan, kata sumber tersebut. Pemerintah kemudian mulai mempercepat pembayaran di muka kepada industri pertahanan dan meningkatkan pengeluaran terkait perang sejak awal tahun, menurut sumber tersebut.
Langkah itu turut mendorong proyeksi defisit anggaran 2026 menjadi lebih dari 7 triliun rubel, dibandingkan 3,8 triliun rubel dalam proyeksi awal. Pemerintah membiayai tambahan belanja pada 2026 melalui peningkatan utang domestik dan penjualan emas.
Kementerian Keuangan Rusia tidak menanggapi permintaan komentar.
Rusia meningkatkan upaya perangnya di Ukraina sejak musim panas tahun ini. Dalam beberapa pekan terakhir, pasukannya berulang kali menyerang target sipil, termasuk di Kyiv, sembari berupaya menyerang jembatan-jembatan di ibu kota Ukraina menggunakan drone.
Sementara itu, serangan terhadap kapal-kapal di dekat pelabuhan Laut Hitam telah menjadi kejadian hampir setiap hari, di tengah meningkatnya serangan yang juga dilancarkan Ukraina.
Belanja militer Rusia untuk 2027 direncanakan mencapai 17,1 triliun rubel dan hanya turun tipis menjadi 16,6 triliun rubel pada 2028 serta 16,3 triliun rubel pada 2029, berdasarkan rencana anggaran tersebut.
Namun, belanja aktual tahun depan juga berpotensi melampaui target tersebut karena Moskow semakin meragukan pemerintahan Trump dapat menengahi kesepakatan dengan Ukraina dengan persyaratan yang dapat diterima Rusia, menurut sumber tersebut.
Pada saat yang sama, meningkatnya ketegangan antara Eropa dan Rusia terlihat jelas pekan lalu ketika Putin menuduh pejabat Eropa bersiap menghadapi kemungkinan konflik pada paruh kedua dekade ini. Ia menunjuk latihan militer di Laut Baltik dan pernyataan mengenai wilayah eksklave Kaliningrad. Putin mengatakan Rusia tidak memiliki rencana untuk menyerang Eropa, tetapi memperingatkan bahwa serangan langsung terhadap wilayah Rusia akan memaksa Moskow mempertimbangkan penggunaan seluruh persenjataan yang dimilikinya.
"Kami memahami bahwa kami akan menghadapi lawan yang jumlah penduduknya dua kali lebih besar, dengan potensi ekonomi dan militer yang besar," kata Putin. "Kami tidak memiliki pasukan dan sarana yang cukup banyak untuk menghadapi ancaman ini. Namun, tidak ada pihak yang memiliki sarana penghancur seperti yang dimiliki Rusia saat ini. Dan ini merupakan keunggulan kompetitif kami."
(bbn)































