Logo Bloomberg Technoz

Seiring perkembangan usaha, Ripuji Lontaratta kini telah memiliki lima orang tenaga kerja. Produk dipasarkan melalui sejumlah kanal, mulai dari gerai offline, media sosial, business to business atau B2B, hingga berbagai pameran dan event.

Jangkauan pasarnya juga semakin luas. Konsumen Ripuji Lontaratta tidak hanya berasal dari Makassar, tetapi telah mencakup pelanggan dari berbagai kota hingga wilayah antarpulau.

Dalam mengembangkan bisnis, As’ad menyadari bahwa kemampuan mengelola usaha menjadi salah satu faktor penting untuk menjaga keberlangsungan bisnis. Pengelolaan legalitas, sumber daya manusia, hingga manajemen usaha menjadi bagian yang perlu terus diperkuat.

Peran linkumkm by BRI dalam Pengembangan Usaha

(Dok. BRI)

Kebutuhan tersebut kemudian mendorong As’ad memanfaatkan linkumkm by BRI sebagai salah satu sarana untuk meningkatkan kapasitas bisnis. Ia pertama kali mengenal platform tersebut saat berkunjung ke Rumah BUMN Makassar.

Setelah memperoleh informasi mengenai berbagai manfaat dan program yang tersedia, As’ad memutuskan bergabung dengan linkumkm by BRI. Salah satu hal yang menarik perhatiannya adalah program pelatihan yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung perkembangan usaha.

“Setelah saya bergabung dengan linkumkm by BRI dan mendapat program pelatihan, usaha saya mengalami perkembangan terutama di bagian legalitas dan manajemen sumber daya manusia. Saya mendapat ilmu bagaimana mengatur usaha agar bisa berkembang dan bagaimana mengatur tim supaya lebih produktif,” kata As’ad.

Platform linkumkm by BRI menjadi bagian dari ekosistem pemberdayaan UMKM yang disiapkan BRI untuk memberikan akses pengembangan kapasitas bagi pelaku usaha. Hingga September 2026, jumlah pelaku UMKM yang telah memanfaatkan platform tersebut tercatat mencapai 17,6 juta.

Pertumbuhan jumlah pengguna tersebut mencerminkan semakin luasnya akses pelaku UMKM terhadap berbagai sarana pengembangan usaha berbasis digital. Bagi pelaku usaha seperti Ripuji Lontaratta, akses terhadap pelatihan menjadi salah satu bagian penting dalam meningkatkan kemampuan mengelola bisnis.

Bagi As’ad, pengembangan Ripuji Lontaratta juga tidak terlepas dari misi untuk menjaga keberadaan aksara Lontara. Setiap produk yang dibuat tidak hanya ditujukan untuk memenuhi kebutuhan fesyen, tetapi juga menjadi sarana untuk mengenalkan identitas budaya Sulawesi Selatan.

“Dalam setiap produk kami ada sebuah misi untuk melestarikan budaya aksara Lontara yang sudah mulai dilupakan anak muda. Kami bukan hanya menghadirkan tas dan topi untuk menunjang selera fesyen pelanggan, tetapi juga bercerita melalui motif aksara Lontara bahwa inilah identitas kita yang harus kita lestarikan dan banggakan,” ungkap As’ad.

Selain mengembangkan produk dan pemasaran, Ripuji Lontaratta juga memanfaatkan layanan digital untuk mendukung aktivitas transaksi. Salah satunya melalui penggunaan QRIS BRI yang memudahkan pelanggan ketika melakukan pembayaran atas produk yang dibeli.

Perjalanan usaha Ripuji Lontaratta tidak selalu berjalan tanpa hambatan. As’ad mengaku pernah menghadapi sejumlah tantangan, termasuk pesanan custom yang dibatalkan secara tiba-tiba hingga persaingan usaha yang dinilai kurang sehat.

Namun, berbagai kendala tersebut menjadi pengalaman bagi As’ad untuk terus mengevaluasi proses bisnis. Setiap persoalan yang muncul menjadi bahan pembelajaran untuk mencari solusi dan memperbaiki pengelolaan usaha.

Dari sisi BRI, pemberdayaan UMKM dinilai perlu dilakukan secara menyeluruh. Pengembangan usaha tidak hanya membutuhkan dukungan permodalan, tetapi juga peningkatan kapasitas dalam berbagai aspek bisnis.

Senior Executive Vice President (SEVP) Micro Business Empowerment BRI M. Candra Utama mengatakan tantangan pelaku UMKM mencakup kapasitas manajemen, legalitas, pemasaran, digitalisasi, hingga kemampuan membaca peluang pasar.

“BRI melihat bahwa UMKM memiliki potensi besar untuk terus tumbuh apabila mendapatkan ekosistem pendukung yang tepat. linkumkm by BRI menjadi salah satu platform yang kami hadirkan untuk membantu pelaku UMKM belajar, beradaptasi, dan berkembang sesuai kebutuhan usahanya,” pungkas Candra.

Perjalanan Ripuji Lontaratta memperlihatkan bagaimana produk kreatif dapat menjadi ruang untuk mempertemukan nilai budaya dengan kebutuhan pasar. Melalui tas, topi, dan produk fesyen lainnya, aksara Lontara tidak hanya ditampilkan sebagai motif, tetapi juga diperkenalkan kembali kepada generasi muda melalui produk yang dekat dengan keseharian mereka.

Di sisi lain, dukungan pengembangan kapasitas menjadi bagian penting agar usaha tersebut dapat terus berkembang. Pemanfaatan linkumkm by BRI, kanal digital, serta QRIS BRI menjadi bagian dari upaya Ripuji Lontaratta memperkuat bisnis sekaligus mempertahankan misi pelestarian budaya yang menjadi dasar usaha sejak awal.

(tim)

No more pages