Aji juga meminta masyarakat tidak perlu khawatir mengenai pembiayaan apabila pemeriksaan atau penanganan influenza A memang diperlukan secara medis.
"Dan enggak usah mikirin soal BPJS. Kalau penanganan penyakitnya pasti ditanggung JKN sepanjang sesuai kebutuhan medis dan alur rujukan," kata Aji.
Sebelumnya, sejumlah warga menceritakan pengalaman mengalami gejala yang mengarah pada influenza A, mulai dari demam tinggi, batuk parah, tubuh lemas hingga kehilangan indra penciuman. Namun, mereka mengaku tidak menjalani tes khusus untuk memastikan penyebab infeksi tersebut.
Salah satunya Azura, yang mulai merasakan gejala seperti flu pada Sabtu pekan lalu. Saat itu, hidungnya terus-menerus berair setelah berolahraga dan kehujanan. Dia kemudian memilih beristirahat dan membeli obat di apotek karena mengira hanya mengalami flu biasa.
Namun, kondisi Azura memburuk pada hari berikutnya. Batuk semakin parah dan mulai disertai demam. Memasuki hari kedua, dia juga mulai kehilangan indra penciuman.
"Hari kedua itu batuknya benar-benar lagi parah banget. Batuk banget. Nah, masuk hari ketiga itu mulai ada demam," kata Azura saat dihubungi Bloomberg Technoz, Senin (5/10/2026).
Pada hari ketiga, kondisinya semakin berat. Demam meningkat, kepala terasa berat, tubuh sangat lemas, dan indra penciumannya semakin hilang. Meski demikian, Azura masih mencoba bekerja karena mengira sakit yang dialaminya merupakan flu biasa.
Baru pada hari keempat, Azura memeriksakan diri ke dokter di fasilitas kesehatan milik Pemerintah Kota Tangerang Selatan. Dokter kemudian meminta pemeriksaan darah.
"Dari tes darah itu kelihatan, kalau enggak salah leukosit ya, leukositnya itu tinggi banget, di atas standar. Kalau kata dia berarti ada infeksi, dan ini di saluran napas atas, berarti ada ISPA," ujarnya.
Namun, Azura tidak menjalani pemeriksaan untuk memastikan apakah ISPA tersebut disebabkan influenza A. Menurutnya, dokter hanya menyampaikan kemungkinan influenza A berdasarkan gejala yang dialaminya.
"Sayangnya enggak dites reagen ataupun swab ini ISPA-nya karena influenza A atau virus lainnya. Tapi diasumsikan bisa, kemungkinan demikian," kata Azura.
Pengalaman sama juga disampaikan Indrawan. Dia mengatakan anaknya sempat mengalami gejala yang mengarah pada influenza A selama sekitar satu minggu, termasuk demam hingga 40 derajat Celsius, pusing, badan linu, dan gangguan pada perut.
Indrawan mempertanyakan bagaimana pemerintah melakukan pelacakan kasus influenza A di lapangan. Menurut dia, pemeriksaan di fasilitas kesehatan yang didatangi anaknya belum secara spesifik dapat memastikan influenza A.
"Di klinik itu cek darah enggak ada petunjuk buat diagnosis flu A. Cuma cek DBD dan leukosit saja buat tanda-tanda bakteri," kata Indrawan.
Berikut daftar Puskesmas yang menjadi Fasilitas Pemeriksaan Influenza A
1. PKM Banda Raya (Aceh)
2. PKM Denpasar Selatan (Bali)
3. PKM Serpong 1 (Banten)
4. PKM Danurejan 1 (DI Yogyakarta)
5. PKM Cengkareng (Jakarta)
6. PKM Sukamerindu (Bengkulu)
7. PKM Duren Sawit (Jakarta)
8. PKM Kebayoran Lama (DKI Jakarta)
9. PKM Pademangan (DKI Jakarta)
10. PKM Tanah Abang (DKI Jakarta)
11. PKM Kabila (Gorontalo)
12. PKM Simpang Sungai Duren (Jambi)
13. PKM Padasuka (Jawa Barat)
14. PKM Pandanaran (Jawa Tengah)
15. PKM Dinoyo (Jawa Timur)
16. PKM Siantan Hilir (Kalimantan Barat)
17. PKM Pekauman (Kalimantan Selatan)
18. PKM Kayon (Kalimantan Tengah)
19. PKM Klandasan Ilir (Kalimantan Timur)
20. PKM Karang Rejo (Kalimantan Utara)
21. PKM Pemali (Bangka Belitung)
22. PKM Batu Aji (Kepulauan Riau)
23. PKM Sumur Batu (Lampung)
24. PKM Wihaong (Maluku)
25. PKM Kalumata (Maluku Utara)
26. PKM Karang Taliwang (NTB)
27. PKM Sikumana (NTT)
28. PKM Jayapura Utara
29. PKM Sanggeng (Papua Barat)
30. PKM Mapah Baru
31. PKM Rumbai (Riau)
32. PKM Tampa Padang (Sulawesi Barat)
33. PKM Sudiang (Sulawesi Selatan)
34. PKM Birobuli
35. PKM Poasia
36. PKM Amurang Barat
37. PKM Lubuk Daya
38. PKM Tujuh Ulu
39. PKM Teladan
Daftar Rumah Sakit yang Dapat Melakukan Pemeriksaan Influenza A secara langsung
1. RSUD Dr. Zainoel Abidin (Aceh)
2. RSUD Wangaya (Bali)
3. RSUP Dr. Sinatala (Banten)
4. RSUD Dr. M. Yunus (Bengkulu)
5. RSUP Dr. Sardjito (Yogyakarta)
6. RSPI Prof. Dr. Sulianti Saroso (DKI Jakarta)
7. RSUD Hasri Ainun Habibie (Gorontalo)
8. RSUD Raden Mattaher (Jambi)
9. RSUP Dr. Hasan Sadikin (Bandung)
10. RSUP Dr. Kariadi (Jawa Tengah)
11. RSUD Saiful Anwar (Jawa Timur)
12. RSUD Dr. Soedarso (Kalimantan Barat)
13. RSUD Ulin Banjarmasin (Kalimantan Selatan)
14. RSUD Dr. Doris Sylvanus (Kalimantan Tengah)
15. RSUD Kanujoso Djatiwibowo (Kalimantan Timur)
16. RSUD Dr. Jusuf (Kalimantan Utara)
17. RSUD Depati Bahrin (Bangka Belitung)
18. RSUD Embung Fatimah (Kepulauan Riau)
19. RSUD Dr. H. Abdul Moeloek (Lampung)
20. RSUP Dr. Johannes Leimena (Maluku)
21. RSUD Dr. H. Chasan Boesoirie (Maluku Utara)
22. RSUD Provinsi NTB
23. RSUD Prof. Dr. W. Z. Johannes (NTT)
24. RSUD Jayapura (Papua)
25. RSUD Provinsi Papua Barat
26. RSUD Merauke (Papua Selatan)
27. RSUD Arifin Achmad (Riau)
28. RSUD Prof. Sulawesi Barat
29. RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo (Sulawesi Selatan)
30. RSUP Undata (Sulawesi Tengah)
31. RSUP Kota Kendari (Sulawesi Tenggara)
32. RSUP Dr. Kandou (Sulawesi Utara)
33. RSUP Dr. M. Djamil Padang (Sumatera Barat)
34. RSUP Dr. Mohammad Hoesin (Sumatera Selatan)
35. RSUD Amri Tambunan (Sumatera Utara)
(dec)
































