Logo Bloomberg Technoz

Selain itu, calon investor yang dapat mengikuti perdagangan short selling mesti memiliki modal minimum Rp50 juta.

Menurut Jeffrey, skema perdagangan short selling itu dapat menjadi instrumen investor untuk mendukung rencana investasinya. Kendati demikian, dia menekankan, risiko yang relatif besar dari model perdagangan ini.

“Oleh karena itu diharapkan adalah investor yang sudah berpengalaman yang menggunakan short selling,” kata dia.

Selain itu, Jeffrey menegaskan daftar efek short selling tidak akan sama dengan daftar saham yang dapat ditransaksikan menggunakan fasilitas margin.

Untuk tahap awal, BEI akan membatasi jumlah saham yang masuk dengan mempertimbangkan proses pembelajaran serta respons pasar.

Selain kriteria saham, BEI juga akan membatasi Anggota Bursa (AB) yang dapat menjalankan transaksi short selling. AB harus memenuhi persyaratan tertentu, termasuk melihat rata-rata nilai transaksi harian dalam satu bulan terakhir.

Jeffrey mengatakan terdapat batas maksimum transaksi short selling sebesar 0,02% dari saham yang ada. Pembatasan tersebut diterapkan untuk mencegah aktivitas dan spekulasi yang berlebihan, baik dari sisi AB maupun investor.

Dalam kajian BEI sebelumnya, penerapan short selling juga diperkirakan berpotensi meningkatkan likuiditas pasar hingga 17%, dengan asumsi terdapat lima AB yang menjalankan transaksi tersebut.

Namun, dampak aktual terhadap likuiditas akan bergantung pada jumlah saham dan AB yang nantinya masuk dalam skema tersebut.

IHSG Tertekan

Hajatan short selling lima saham kapitalisasi besar itu terjadi di tengah pergerakan IHSG yang melanjutkan tekanan.

Indeks komposit balik arah arah hingga terjerembab di zona merah dengan pelemahan 0,83% di posisi 6.071,13 pada penutupan perdagangan Rabu (30/9/2026). 

IHSG Penutupan Sesi II pada Rabu 30 September 2026 (Bloomberg)

Saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) hingga saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN) menjadi salah satu pemberat.

Padahal, IHSG sempat melesat hingga menyentuh titik tertinggi di posisi 6.187,04 pada perdagangan kemarin. Namun selepas itu, Indeks Komposit berangsur-angsur melemah mencapai 6.071,13 di tutup dagang.

Sejumlah saham berkapitalisasi besar atau big caps menjadi pemberat IHSG sepanjang perdagangan. Saham–saham teknologi, saham konsumen non primer, dan saham energi mencatatkan pelemahan paling dalam dengan tertekan 2,76%, 2,35% dan 1,34%.

Pelemahan IHSG tertekan sentimen global maupun domestik, Kenaikan yield obligasi AS yang masih tinggi di atas level 5,2%, level tertinggi dalam beberapa tahun, meningkatkan probabilitas kenaikan suku bunga acuan sebesar 25bps pada pertemuan Oktober 2026.

Kekhawatiran investor belakangan memuncak, terlihat dari semakin meluasnya aksi jual di pasar US Treasury, yang merupakan pasar obligasi pemerintah terbesar dan paling berpengaruh di dunia.

(naw)

No more pages