Logo Bloomberg Technoz

Cara Trader Gunakan TradingView Pantau Defisit Transaksi Berjalan


(Dok. TradingView)
(Dok. TradingView)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Defisit transaksi berjalan Indonesia melebar tajam menjadi US$12,5 miliar pada kuartal II-2026, setara 3,3% dari Produk Domestik Bruto (PDB), dari US$3,6 miliar pada kuartal sebelumnya. Bank Indonesia (BI) menyebut pelebaran tersebut antara lain dipengaruhi oleh defisit neraca perdagangan minyak dan gas (migas) yang membesar serta surplus nonmigas yang menyusut. Bagi trader valuta asing, kondisi tersebut kembali menempatkan posisi eksternal Indonesia dalam radar pasar.

Bagi trader yang ingin memahami tekanan tersebut, TradingView dapat menjadi salah satu alat untuk memantau pergerakan berbagai instrumen secara bersamaan. Defisit transaksi berjalan merupakan data ekonomi kuartalan yang tidak bergerak dari menit ke menit seperti harga di pasar, tetapi dampaknya dapat tercermin dalam pergerakan rupiah, dolar AS, minyak mentah, dan aset terkait lainnya. Dengan memantau sejumlah pasar sekaligus, trader dapat memperoleh gambaran yang lebih utuh mengenai apakah tekanan eksternal terhadap rupiah sedang meningkat atau mereda.

Mulai dari USD/IDR dan Dolar AS

Rupiah menjadi salah satu indikator utama yang perlu diperhatikan. Pelebaran defisit transaksi berjalan dapat membuat pasar lebih sensitif terhadap kebutuhan Indonesia terhadap valuta asing, terutama ketika kondisi pasar global sedang bergejolak. Namun, pergerakan USD/IDR tidak selalu disebabkan oleh faktor domestik.

  • Pantau USD/IDR di sekitar level penting: Kenaikan yang bertahan dalam beberapa sesi dapat menjadi sinyal bahwa tekanan terhadap rupiah masih berlangsung, bukan sekadar volatilitas sesaat.
  • Bandingkan dengan kekuatan dolar AS secara luas: Jika rupiah melemah bersamaan dengan mata uang negara Asia lainnya, pergerakan tersebut bisa lebih banyak dipengaruhi faktor global daripada kondisi Indonesia secara spesifik.

Pembedaan ini penting bagi trader. Misalnya, USD/IDR naik ketika sebagian besar mata uang Asia juga melemah. Dalam kondisi tersebut, defisit transaksi berjalan Indonesia tetap relevan, tetapi penguatan dolar AS secara global juga dapat menjadi faktor utama. Satu grafik menunjukkan pergerakan harga, sementara perbandingan dengan pasar lain membantu memberikan konteks.

Pantau Minyak karena Berkaitan dengan Defisit Migas

Harga minyak mentah juga layak mendapat perhatian karena BI menyebut pelebaran defisit transaksi berjalan pada kuartal II-2026 antara lain dipengaruhi oleh membesarnya defisit perdagangan migas, di tengah impor minyak yang lebih tinggi dan harga minyak global yang meningkat. Faktor ini menghubungkan data makroekonomi dengan instrumen yang dapat dipantau secara langsung oleh trader.

  • Bandingkan pergerakan minyak dengan rupiah: Kenaikan harga minyak dapat meningkatkan perhatian terhadap kebutuhan impor energi Indonesia dan menjadi salah satu faktor yang perlu dicermati dalam membaca pergerakan rupiah.
  • Cari pola yang berkelanjutan: Satu kali lonjakan harga minyak belum tentu memiliki arti besar. Namun, kenaikan minyak yang berlangsung bersamaan dengan pelemahan rupiah dapat memberikan konteks yang lebih kuat.

Memantau kedua instrumen secara bersamaan membantu trader melihat hubungan antarvariabel. Ketika harga minyak meningkat, rupiah melemah, dan dolar AS menguat secara bersamaan, tekanan eksternal terhadap rupiah menjadi lebih relevan untuk diperhatikan dibandingkan jika hanya satu indikator yang bergerak.

Gunakan Beberapa Pasar untuk Membaca Arah Tekanan

Meski defisit transaksi berjalan mencapai US$12,5 miliar, trader juga perlu melihat komponen lain dalam neraca pembayaran Indonesia. Pada kuartal II-2026, neraca modal dan finansial mencatat surplus yang antara lain ditopang oleh arus masuk investasi langsung dan portofolio yang lebih kuat. Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang dapat membantu mengimbangi tekanan dari transaksi berjalan.

  • Bandingkan rupiah dengan aset dan sentimen pasar kawasan: Jika sejumlah aset negara berkembang melemah secara bersamaan, pergerakan tersebut dapat mencerminkan perubahan sentimen risiko global atau regional.
  • Gunakan fitur alert pada USD/IDR: Trader tidak harus mengawasi setiap pergerakan harga. Alert dapat digunakan untuk memberi notifikasi ketika USD/IDR mencapai level yang dianggap penting.

Penggunaan beberapa grafik bukan semata-mata untuk memprediksi arah pasar, melainkan untuk mendapatkan konteks yang lebih lengkap. Misalnya, pelemahan rupiah yang terjadi bersamaan dengan kenaikan harga minyak dan penguatan dolar AS dapat menunjukkan kombinasi tekanan eksternal yang perlu diperhatikan. Sebaliknya, arus modal yang tetap kuat dapat menjadi faktor yang membantu meredam tekanan tersebut.