Perkembangan harga minyak menjadi sentimen negatif bagi emas. Kemarin, harga minyak jenis brent ditutup naik 1,6% ke US$ 105,99/barel.
Dinamika di Timur Tengah masih menjadi pendongkrak harga si emas hitam. Pembicaraan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran gagal membuahkan hasil yang signifikan, terutama soal pembukaan kembali Selat Hormuz.
Apabila harga energi terus meninggi, maka dunia akan sulit keluar dari jeratan inflasi. Alhasil, bank sentral di berbagai negara tidak punya banyak pilihan kecuali menaikkan suku bunga acuan.
Emas adalah aset yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset). Memegang emas menjadi kurang menguntungkan saat suku bunga tinggi.
“Emas sedang berada dalam situasi yang sangat sulit dalam jangka pendek. Harga minyak menguji level US$ 110/barel, yield obligasi naik, dan The Fed (Federal Reserve, bank sentral AS) mungkin saja menaikkan suku bunga acuan 100 basis poin tahun depan,” tegas Nicky Shiels, Kepala Riset Logam di MKS PAMP, dalam wawancara dengan Bloomberg TV.
(aji)





























