Harga emas telah turun sekitar 7% sepanjang September setelah The Fed menaikkan suku bunga untuk pertama kalinya sejak 2023 guna mengatasi inflasi AS yang masih tinggi dan mengisyaratkan kemungkinan kenaikan lanjutan. Saat ini, investor memperkirakan probabilitas sekitar 70% untuk kenaikan suku bunga pada Oktober.
Pelemahan harga emas “mencerminkan kombinasi kenaikan imbal hasil obligasi, dolar yang menguat, serta aksi jual teknikal setelah harga menembus level support, yang kemungkinan diperkuat aksi ambil untung investor China menjelang libur Golden Week,” kata Ole Hansen, Kepala Strategi Komoditas Saxo Bank A/S.
China akan memasuki libur nasional selama sepekan mulai 1 Oktober. Sejumlah pemicu volatilitas lainnya juga akan menjadi perhatian pasar pekan ini, termasuk data indikator inflasi pilihan The Fed yang akan dirilis Rabu serta data nonfarm payrolls pada Jumat.
Di sektor korporasi, Gold Fields Ltd. asal Afrika Selatan mengajukan proposal senilai US$27,1 miliar atau sekitar Rp487,5 triliun untuk mengakuisisi perusahaan tambang Australia, Northern Star Resources Ltd. Namun, perusahaan target menolak proposal berupa kombinasi uang tunai dan saham tersebut, yang disebutnya sebagai tawaran yang “sangat oportunistis”.
Harga spot emas turun 3,6% menjadi US$4.130,31 per troy ounce atau sekitar Rp74,29 juta pada pukul 12:49 waktu New York. Harga perak turun 5% menjadi US$61,04 per ounce, sedangkan Bloomberg Dollar Spot Index, yang mengukur nilai mata uang AS, naik 0,2%
(bbn)



























