Rauri Bowie, profesor di UC Berkeley sekaligus kurator Museum of Vertebrate Zoology, mengatakan klasifikasi penguin gentoo telah menjadi perdebatan di kalangan ilmuwan selama lebih dari satu abad.
"Selama lebih dari 100 tahun, terdapat perdebatan mengenai berapa banyak spesies atau subspesies penguin gentoo yang sebenarnya ada," ujar dia.
Menurut Bowie, penelitian tersebut menggunakan pendekatan integratif untuk menjawab perdebatan mengenai jumlah spesies dan subspesies penguin gentoo.
"Penelitian ini berupaya menjawab pertanyaan tersebut menggunakan pendekatan integratif yang mutakhir," tambahnya.
Peneliti juga menaikkan status tiga subspesies gentoo yang sebelumnya telah dikenal menjadi spesies tersendiri.
Ketiganya adalah Pygoscelis taeniata yang hidup di Kepulauan Crozet, Marion dan Macquarie; Pygoscelis papua yang ditemukan di Kepulauan Falkland/Malvinas dan Martillo di Amerika Selatan; serta Pygoscelis ellsworthi yang merupakan populasi terbesar dan hidup di Semenanjung Antarktika, pesisir Antarktika dan Georgia Selatan.
Penelitian menggunakan sekuens genom lengkap dari 64 individu yang berasal dari 10 koloni perkembangbiakan. Data tersebut mencakup hampir seluruh wilayah geografis tempat penguin gentoo hidup.
Analisis menunjukkan keempat spesies tersebut berkembang secara berbeda dalam rentang sekitar 300.000 hingga 500.000 tahun.
Isolasi geografis dan Antarctic Polar Front, yakni batas perubahan suhu dan salinitas di Samudra Selatan, menjadi salah satu faktor yang membatasi perpindahan penguin antarpopulasi.
Terancam Perubahan Iklim
Perbedaan genetik juga menunjukkan bagaimana masing-masing spesies beradaptasi dengan lingkungannya. Pygoscelis ellsworthi, yang hidup di Antarktika, memiliki lebih banyak gen yang berkaitan dengan produksi panas, penyimpanan lemak dan lipid serta persepsi cahaya.
Sementara itu, Pygoscelis taeniata memiliki lebih banyak gen yang berkaitan dengan metabolisme karbohidrat yang efisien dan kemampuan menyelam.
Pygoscelis papua menunjukkan pengayaan gen yang mendukung aktivitas mencari makan di air, termasuk proses pencernaan serta fungsi jantung dan otot.
Temuan tersebut meningkatkan perhatian terhadap kondisi populasi penguin gentoo di wilayah sub-Antarktika. Peneliti menggunakan model perubahan iklim untuk memperkirakan kemampuan keempat spesies beradaptasi terhadap pemanasan global.
Dalam skenario perubahan iklim moderat, peneliti memperkirakan habitat yang saat ini ditempati spesies gentoo di kepulauan sub-Antarktika dapat menjadi tidak layak dihuni pada 2050. Keterbatasan pulau yang sesuai di sekitar habitat tersebut juga dapat menyulitkan perpindahan populasi.
Juliana Vianna, salah satu penulis senior penelitian dan profesor di Andres Bello National University di Santiago, Chile, mengatakan kondisi tersebut menjadi perhatian khusus bagi spesies gentoo yang hidup di wilayah sub-Antarktika.
"Sangat penting bagi lembaga konservasi di semua negara yang terlibat untuk mengakui keberadaan ketiga spesies penguin gentoo tersebut dan mengambil langkah yang tepat untuk menyelamatkannya," sebutnya.
Penguin gentoo diketahui memiliki pola makan yang lebih umum dibandingkan sejumlah spesies penguin lain. Mereka dapat memakan ikan, krill, cumi-cumi hingga sotong.
Pola makan tersebut membuat penguin gentoo cenderung tidak perlu melakukan perjalanan jauh dari koloni untuk mencari makanan. Menurut peneliti, kondisi itu turut mendorong terbentuknya populasi yang terisolasi.
Populasi yang bertahan di wilayah berbeda kemudian mengembangkan adaptasi terhadap lingkungan setempat. Proses tersebut, bersama isolasi geografis, menjadi bagian dari faktor yang mendorong terbentuknya empat spesies penguin gentoo yang diidentifikasi dalam penelitian.
(mef/wep)



























