Sedangkan, gelombang dengan ketinggian 1,25–2,5 meter berpeluang terjadi di Selat Malaka bagian utara, Samudra Hindia selatan Jawa Barat, Jawa Tengah, selatan Bali, selatan Nusa Tenggara Timur (NTT), Laut Arafuru bagian barat hingga timur, Selat Makassar bagian selatan, Laut Jawa bagian tengah dan timur, serta Samudra Pasifik utara Maluku.
BMKG mengingatkan potensi gelombang tinggi tersebut dapat membahayakan keselamatan pelayaran.
"Nelayan yang menggunakan perahu perlu mewaspadai kecepatan angin di atas 15 knot dan gelombang lebih dari 1,25 meter," kata BMKG dalam keterangan tertulis, Senin (28/09).
Risiko juga perlu diperhatikan oleh kapal tongkang ketika kecepatan angin lebih dari 16 knot dan tinggi gelombang di atas 1,5 meter. Sementara kapal feri perlu mewaspadai angin di atas 21 knot dan gelombang lebih dari 2,5 meter.
Adapun kapal berukuran besar, seperti kapal kargo dan kapal pesiar, perlu mewaspadai kondisi ketika kecepatan angin melebihi 27 knot dan tinggi gelombang di atas 4 meter.
"BMKG juga mengimbau masyarakat yang tinggal dan beraktivitas di wilayah pesisir sekitar area yang berpotensi mengalami gelombang tinggi agar tetap waspada," tegasnya.
(dec/del)




























