Ekspektasi terhadap kebijakan moneter ketat menjadi beban bagi harga emas. Bank sentral di berbagai negara sudah menaikkan suku bunga acuan, dan sepertinya itu bukan yang terakhir buat tahun ini.
Bank sentral Amerika Serikat (AS) Federal Reserve, misalnya. Gubernur Kevin Warsh dan kolega sudah menaikkan Federal Funds Rate sebesar 25 basis poin (bps) ke 3,75-4% dalam rapat bulan ini.
Berdasarkan dot plot terbaru, sepertinya The Fed akan menaikkan suku bunga acuan setidaknya sekali lagi sampai akhir tahun. Bahkan pasar menilai bisa saja The Fed bakal mengerek suku bunga acuan dalam dua rapat terakhir 2026.
Mengutip CME FedWatch, probabilitas suku bunga acuan di Negeri Paman Sam naik ke 4-4.25% dalam rapat Komite Pengambil Kebijakan (Federal Open Market Committee/FOMC) Oktober adalah 65,9%. Kemudian peluang suku bunga acuan kembali naik 25 bps ke 4,25-4,5% dalam rapat Desember adalah 53,7%.
Emas adalah aset yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset). Memegang emas menjadi kurang menguntungkan saat suku bunga tinggi.
“Ini menjadi tantangan yang sulit bagi emas, bahkan meski tren bullish jangka panjang belum berubah. Mungkin perlu katalis baru untuk mendorong harga lebih tinggi,” kata Christopher Wong, Analis di Oversea-Chinese Banking Corp, sebagaimana diberitakan Bloomberg News.
(aji)





























