Pasar solar global dilanda ketidakpastian pekan ini setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan dukungannya terhadap gagasan pembatasan ekspor diesel AS. Penasihat ekonomi Trump sedang menganalisis dampak dari potensi larangan tersebut jangka pendek.
Namun, Chris Wright menyatakan pemerintah sedang bekerja sama dengan perusahaan kilang untuk membatasi ekspor diesel secara sukarela sebagai alternatif dari kebijakan pemerintah.
Harga diesel di pom bensin AS telah stabil di kisaran US$6,50 per galon, mendekati level rekor. Usulan Trump untuk menghentikan ekspor telah memicu pergerakan tajam pada harga kontrak berjangka bahan bakar pekan ini dan menghadapi penolakan keras dari industri.
Sekutu utama di luar negeri, terutama di Eropa, semakin khawatir akan dampak ekonomi akibat hilangnya akses ke pasokan AS di tengah perang AS-Iran dan Rusia-Ukraina yang telah menguras ketersediaan bahan bakar global.
Para CEO perusahaan minyak dan pemangku kepentingan industri lain telah mendesak pejabat pemerintah untuk menangguhkan pajak cukai federal atas solar. Mereka berpendapat langkah ini akan meringankan harga bagi konsumen menjelang Pemilu sela November, tanpa dampak negatif yang mungkin timbul akibat larangan ekspor.
Namun, usulan tersebut memicu perdebatan internal mengenai bagaimana cara menangguhkan pajak tersebut—terutama karena Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) sedang dalam masa reses menjelang Pemilu.
Meski demikian, kemungkinan adanya larangan ekspor membuat perusahaan kilang minyak waswas. Menurut sumber, beberapa perusahaan sudah mulai menambahkan klausul perlindungan dalam kontrak mereka untuk mengantisipasi skenario, di mana penangguhan pengiriman diesel ke luar negeri menghambat pasokan ke pembeli asing.
Usulan terpisah dari industri untuk menangguhkan atau mengurangi kuota pencampuran biofuel sebagian besar telah ditolak. Kuota yang mewajibkan penggunaan etanol berbasis jagung dan biodiesel berbasis kedelai memiliki arti penting secara politis bagi wilayah pertanian utama Amerika.
Pekan ini, para gubernur dari Partai Republik di negara-negara bagian pertanian utama AS telah melonggarkan pembatasan penggunaan bahan bakar diesel seiring dimulainya musim panen.
Gubernur Louisiana, Jeff Landry, awal pekan ini mengumumkan status darurat dan menangguhkan sanksi bagi petani serta penebang kayu yang menggunakan diesel off-road di jalan raya hingga akhir Oktober.
Gubernur Alabama, Kay Ivey, mengambil langkah serupa pada Kamis, memerintahkan aparat penegak hukum di negara bagiannya untuk tidak menegakkan pembatasan penggunaan diesel merah selama empat bulan.
Gubernur Nebraska, Jim Pillen, mengeluarkan perintah eksekutif pada Kamis yang mengizinkan kendaraan terdaftar untuk jalan raya menggunakan diesel off-road tanpa sanksi, serta mengumumkan bahwa pihak yang mengangkut ternak dan hasil panen berhak mendapatkan pengembalian pajak diesel.
"Kami tidak akan tinggal diam, sementara petani Louisiana harus membayar harga rekor tertinggi untuk memanen hasil panen yang menjadi sumber pangan keluarga dan penopang ekonomi kita," ujar Landry dalam pernyataan pada Rabu. "Kami memiliki kesempatan untuk memberikan bantuan segera, dan itulah yang sedang kami lakukan."
Diesel off-road secara kimiawi identik dengan diesel yang dibeli kebanyakan pengemudi di SPBU di seluruh negeri; perbedaannya terletak pada pembebasan pajak cukai negara bagian dan federal, serta secara hukum tidak boleh digunakan untuk berkendara di jalan raya AS.
Untuk mencegah pengguna jalan raya membeli jenis diesel murah ini, bahan bakar tersebut diberi pewarna merah, sehingga penegak hukum bisa memeriksa apakah pengemudi menggunakan jenis bahan bakar yang tidak sesuai aturan.
Menurut Badan Informasi Energi AS, pajak federal atas diesel sekitar 24 sen per galon, ditambah pajak negara bagian dengan rata-rata 36 sen per galon.
Menghapus pembatasan penjualan diesel off-road dapat menurunkan harga bagi petani hingga di bawah US$6 per galon—penurunan yang signifikan—tetapi angka tersebut masih jauh di atas harga diesel di bawah US$4 per galon yang sempat tercatat sebelum AS dan Israel memulai perang di Iran.
(bbn)

























