Melansir Reuters, Jumat (25/9/2026), Rystad Energy menyebut rendahnya cadangan bensin dan diesel meningkatkan kemungkinan diperketatnya kontrol ekspor pada Oktober.
GL Consulting memperkirakan ekspor akan turun pada bulan depan karena kilang-kilang milik negara lebih mementingkan ketahanan energi dalam negeri.
China sendiri belum menerbitkan rencana ekspor bahan bakar Oktober kepada perusahaan kilang.
Sejumlah analis juga telah menurunkan proyeksi impor minyak mentah China pada kuartal keempat, seiring meningkatnya gangguan pasokan dari Timur Tengah, dan memperkirakan level produksi kilang saat ini tidak bisa dipertahankan dalam jangka panjang.
Energy Aspects telah menurunkan perkiraan impor minyak mentah China pada kuartal keempat menjadi 9,2 juta barel per hari. Rystad Energy memangkas proyeksi volume pengolahan kilang pada kuartal keempat sebesar 880.000 barel per hari dari estimasi sebelumnya, menjadi 13,9 juta barel per hari.
"Biaya minyak mentah yang tinggi kini memaksa kilang-kilang independen untuk mengurangi tingkat operasional. Dengan kilang-kilang milik negara yang juga memasuki pemeliharaan, mereka tidak dapat sepenuhnya mengimbangi kekurangan produksi," kata Ye Lin, wakil presiden di Rystad Energy.
"Tingginya biaya minyak mentah kini memaksa kilang-kilang independen memangkas tingkat operasional. Mengingat kilang milik negara juga sedang memasuki musim pemeliharaan, mereka tidak bisa sepenuhnya mengimbangi kekurangan produksi tersebut," ujar Ye Lin, Wakil Presiden Rystad Energy.
"Akibatnya, ruang gerak sektor ini sangat terbatas. Pengetatan pembatasan ekspor juga berarti harus melepaskan margin ekspor yang menggiurkan, tetapi China harus mengamankan pasokan dalam negeri."
(ros)






























