Logo Bloomberg Technoz

Sementara itu, cadangan bahan bakar distilat—yang saat ini di level terendah sepanjang masa untuk musim ini—akan kembali terisi.

JPMorgan memproyeksikan cadangan tersebut akan mencapai rata-rata lima tahun dalam waktu dua minggu dan mencapai 140 juta barel setelah 30 hari, level yang terakhir kali tercatat pada tahun 2021.

Namun, para analis memperingatkan situasi akan memburuk dengan cepat setelah titik tersebut.

Faktor ekonomi akan dengan cepat membuat penyimpanan menjadi kurang menarik dan menekan laba, yang kemungkinan akan mendorong perusahaan kilang memproses lebih sedikit barel minyak mentah dan memproduksi lebih sedikit bahan bakar dari segala jenis.

Di tengah tekanan terhadap pasokan diesel akibat perang di Iran, Rusia, dan Ukraina, pemerintahan Trump sedang mempertimbangkan cara untuk menstabilkan harga menjelang Pemilu sela November.

Karena bahan bakar ini sangat penting bagi sektor angkutan barang, manufaktur, pertanian, dan pemanas ruangan, kenaikan harga diesel berdampak luas terhadap perekonomian dunia.

Larangan ekspor AS akan berdampak pada beberapa sekutu utama negara tersebut, termasuk Brasil dan Inggris.

Meski Presiden Donald Trump menyatakan telah mendorong para penasihatnya untuk mendukung larangan ekspor, Gedung Putih membantah laporan Politico yang menyebut pemerintah sedang mempertimbangkan penghentian ekspor selama 90 hari.

Menteri Energi Chris Wright mengatakan pemerintah sedang berupaya membantu industri secara mandiri meningkatkan pasokan diesel, bahkan tanpa ada larangan pemerintah terhadap penjualan bahan bakar tersebut ke luar negeri.

Cadangan Distilat AS Anjlok di Tengah Konflik Iran. (Bloomberg)

Menghitung seberapa lama larangan ekspor akan menurunkan harga diesel domestik bukanlah hal yang mudah. Hal ini memerlukan keseimbangan antara perkiraan kelebihan pasokan—AS mengekspor 1,6 juta barel diesel per hari pada Agustus, sebagian besar dari Pantai Teluk, menurut JPMorgan—dengan tingkat konsumsi, produksi, serta kemampuan untuk mendistribusikan bahan bakar dari Pantai Teluk ke pesisir Timur dan Barat. 

Pengangkutan tersebut merupakan proses yang rumit: kapal tanker hanya dapat mengangkut bahan bakar dalam jumlah terbatas, dan tidak ada pipa bahan bakar yang menghubungkan Texas dan Louisiana ke California.

Beberapa pengamat industri memperkirakan pengisian kembali persediaan AS bisa memakan waktu lebih lama dari estimasi 30 hari yang dibuat JPMorgan; ini berarti harga diesel eceran bisa tetap rendah lebih lama.

Citigroup Inc menyatakan dalam catatan bahwa dibutuhkan "sekitar dua bulan" bagi persediaan distilat untuk mencapai level puncak historis. Trader lain memperkirakan waktu sekitar dua hingga tiga bulan, bahkan jika larangan ekspor menyeluruh untuk semua jenis bahan bakar diberlakukan.

Namun, ada pula pihak yang memprediksi jangka waktu lebih singkat. Jika ekspor dihentikan dan kilang terus memproduksi bahan bakar pada tingkat yang saat ini mendekati rekor, tangki penyimpanan kemungkinan akan penuh dalam enam hingga delapan minggu, menurut eksekutif senior perusahaan kilang AS yang tidak berwenang berbicara secara terbuka mengenai hal ini.

Itulah sebabnya pemerintah mempertimbangkan larangan ekspor sementara. Namun, jika produsen bahan bakar mengurangi pengolahan minyak mentah sejak awal, kemungkinan dibutuhkan waktu beberapa bulan atau lebih lama hingga tangki penuh, ujar eksekutif tersebut.

Di Pantai Teluk, kemungkinan hanya dibutuhkan empat hingga delapan minggu agar penyimpanan terisi penuh, menurut Steven Barsamian, COO The Tank Tiger, perusahaan yang memfasilitasi penyewaan ruang penyimpanan tangki di antara pelaku pasar.  

Analis Morgan Stanley, termasuk Martijn Rats, memperkirakan waktu lebih singkat lagi, menyatakan bahwa fasilitas penyimpanan di wilayah tersebut akan terisi penuh hanya dalam waktu tiga minggu sebelum kilang-kilang memangkas produksi.

Jumlah bahan bakar distilat yang disimpan di tangki-tangki Pantai Teluk saat ini sudah melebihi tingkat normal musiman.

Ada juga kemungkinan kilang-kilang sama sekali tidak akan mengisi ruang penyimpanan karena biaya penyimpanan bahan bakar berlebih, tulis para analis S&P Global Energy, termasuk Debnil Chowdhury, awal pekan ini. Sebaliknya, mereka kemungkinan besar akan segera memangkas produksi.

(bbn)

No more pages