Kuala Lumpur, Singapura, dan Jakarta masuk dalam daftar 10 kota besar paling tercemar di dunia pada Selasa (20/10), berdasarkan pemeringkatan waktu nyata dari perusahaan pemantau kualitas udara IQAir. Buruknya kualitas udara juga mendorong penutupan sekolah di sejumlah wilayah Malaysia.
Operator tur yang melayani wisatawan mancanegara melaporkan pembatalan perjalanan untuk November dan berkurangnya pemesanan rombongan. Sementara itu, agen perjalanan di luar negeri meminta informasi terbaru mengenai kualitas udara, menurut Presiden Malaysian Inbound Tourism Association, Mint Leong.
Perlambatan ini terjadi ketika Malaysia menargetkan kedatangan 47 juta wisatawan tahun ini melalui perpanjangan kampanye Visit Malaysia 2026. Menurut Tourism Malaysia, negara tersebut mencatat 28,8 juta kunjungan wisatawan mancanegara dalam delapan bulan pertama 2026. Kementerian Pariwisata Malaysia tidak menanggapi pertanyaan mengenai dampak kabut asap terhadap sektor tersebut.
“Kerugian pendapatan bisa mencapai jutaan” ringgit, kata Leong.
Data Departemen Statistik Malaysia menunjukkan bahwa wisatawan mancanegara membelanjakan 124,8 miliar ringgit (Rp549 triliun) di negara tersebut pada tahun lalu, dibandingkan dengan 112,1 miliar ringgit yang dibelanjakan wisatawan domestik.
Industri terkait pariwisata menghasilkan nilai ekonomi sebesar 323 miliar ringgit pada 2025, setara dengan 15,9% produk domestik bruto (PDB). Aktivitas ekonomi yang secara langsung berasal dari belanja pariwisata menyumbang 6,8% terhadap PDB.
Meski kondisi berkabut asap, sejumlah wisatawan tetap memadati kawasan Chinatown di Kuala Lumpur pada Senin untuk mencari barang dengan harga murah. Namun, seorang pedagang bernama Wong Mei mengatakan jumlah pelanggan menurun pada bulan ini.
“Jumlah orang yang keluar rumah berkurang dalam dua pekan terakhir,” kata Wong, penjual tas berusia 62 tahun, seraya menyalahkan kabut asap atas penurunan tersebut.
James Wheatley, wisatawan asal Inggris, mengatakan polusi udara tidak menyurutkan niat rombongannya untuk berkunjung ke Malaysia.
“Kami baru tiba kemarin dan akan tinggal hingga 27 Oktober. Kabut asapnya tidak terlalu parah dan kami menyesuaikan diri dengan kondisi ini,” kata pria berusia 60 tahun itu saat mencicipi buah lokal di sebuah kios pinggir jalan. “Kalau kami tahu sebelumnya, kami akan menunda perjalanan, tetapi sekarang kami sudah berada di sini.”
(bbn)






























