Tjoe Ay juga mengatakan, penerapan badan ekspor satu pintu yang tidak sesuai dengan prinsip bisnis yang wajar akan berisiko terhadap posisi defisit fiskal dan nilai tukar rupiah di masa mendatang.
Risiko itu disebabkan karena ketidakpastian pendapatan pemerintah dalam bentuk dolar AS, akibat kemacetan dari ekspor komoditas utama penopang APBN seperti batubara dan minyak kelapa sawit atau CPO.
“Kalau kena downgrade, rupiah 25.000 itu possible karena bond dijualin secara masif, karena beberapa fund manager di luar yang main fixed income tidak bisa beli kalau dikasih downgrade,” tuturnya.
(dhf)
No more pages
























